Ciblek

Nama aslinya sih, bagus: Edy Nuryanto. Entah kenapa tiba-tiba semua orang memanggilnya Ciblek setelah pulang dari Diksar Mapala di Merapi. Setahu saya, Ciblek adalah akronim dari “cilik-cilik betah melek.” Betah melek apaan, jam 9 malem juga udah tidur dia.

***

Saya mengenal Ciblek sejak tahun 2001, sejak kami ikut Diksar bareng yang penuh derita itu. Ciblek juga memilih arung jeram untuk didalami saat pendidikan lanjut Mapala, bareng saya, Gaplek, dan Asep. Selama setahun kerjaan kami adalah masuk keluar sungai, waduk, hingga selokan, entah itu untuk latihan atau untuk pemetaan. Atau boker.

Saya masih ingat betapa girangnya dia waktu kami latihan eskimo roll, teknik membalikkan perahu menggunakan dayung dan pinggang. Sejak pagi hingga sore, kami semua belum ada yang berhasil melakukan eskimo roll. Jack (ini juga bukan nama sebenarnya, aslinya Nurfahmi Eko Putra. Kenapa dia dipanggil Jack? Karena mirip dengan Jaka di Jinny oh Jinny hahaha…), senior kami, membuat sayembara. Yang berhasil lebih dulu melakukan eskimo roll akan dikasih kalung dayung miliknya. Kalung itu bagus sih emang, buatan tangan, dan jarang banget yang punya. Tau gak yang berhasil duluan siapa?

Ciblek.

air1

***

Sejak masa latihan, saya sudah terbiasa berduet dengan Ciblek. Biasanya, saya duduk di belakang, Ciblek di depan. Sebesar apa pun jeramnya, saya selalu merasa lebih tenang ketika ada Ciblek di kanan depan perahu. Tanpa aba-aba pun kami sudah saling tahu apa yang harus dilakukan, ke mana kami harus menarik dayung, ke mana perahu harus diarahkan, dan apa yang akan kami lakukan seandainya perahu kami terjebak di hole.

Dibanding Gaplek dan Asep, saya lebih memilih Ciblek sebagai tandem saya di perahu, apalagi kalo kita lagi bawa tamu. Bukan apa-apa, Ciblek emang lebih mudah diatur daripada Gaplek dan Asep, dua setan sungai yang bandelnya minta ampun itu.

Waktu saya jadi ketua Mapala, Ciblek sekretarisnya. Walopun orangnya suka ngilang, jarang ke kampus, jarang ikut ke lapangan, tapi Ciblek selalu nongol ketika saya benar-benar butuh bantuannya. Dan sangat bisa diandalkan. Saya bisa sangat marah kepadanya kalo merasa dia kurang membantu, tapi begitu anaknya nongol, luluh men. Mukanya suka disetting penuh permohonan maaf gitu soalnya. Kampret emang.

Hanya saja, karirnya di dunia arung jeram kurang berkembang. Saya baru tahu penyebabnya belakangan, setelah kami berdua menjajal sungai Serayu menggunakan single kayak. Ciblek ternyata adalah tipe solo paddler, yang akan lebih mahir ketika mengemudikan perahunya sendiri, tanpa awak.

“Aku tuh ngga enak harus merintah-merintah orang kalo ngarung pake perahu oval, tapi mau dikendaliin sendiri ya susah, kau aja lah,” katanya saat saya ngajak gantian jadi skipper sekali waktu. Dia memang suka telat ngasih aba-aba, suka telat manuver, dan hasilnya adalah perahu sering nyangkut di batu, atau, kebalik di jeram. Pernah juga setelah masuk jeram (waktu itu dia skippernya), kami tidak mendengar aba-aba apa pun. Begitu noleh ke belakang, eh orangnya gak ada, malah jatuh dan akhirnya berenang megap-megap di samping perahu.

Cibleknya di dalam aer

Jadi ada satu jeram yang lumayan seram di sungai Serayu, namanya jeram tangga. Saya dan Ciblek sama-sama menggunakan kayak. Sebelum masuk jeram itu, kami berdua menepi, memarkir kayak kami, lalu jalan di tepi sungai untuk scouting, mengamati bentuk jeram dari darat. Jeramnya tinggi, berundak-undak, berbatu-batu, dan arusnya deras. Ya namanya juga jeram ya hahaha… Kami berdiskusi singkat untuk menentukan jalur, lalu kembali ke kayak masing-masing. Saya masuk lebih dulu.

Saya melewati jeram itu dengan grogi, terbalik di tengah jeram, terbentur batu, lalu keluar dari air dengan koleksi luka baru di tangan dan kaki.

Ciblek melewati jeram itu dengan gembira, teriak-teriak kegirangan, sambil ngangkat dayung pulak! “YEAAAAAAAAAAAYYYYY!” katanya. Saya hanya melongo. Manuvernya mulus, dan yang pasti, penuh percaya diri.

***

Kurang lebih 8 tahun kami tumbuh bersama.

Menikmati teh hangat di depan tenda, di hutan pinus gunung Merapi..
Motoran dari Jogja ke Magelang sambil bawa kayak demi turun di sungai Elo..
Memilih pasang hammock dan nonton orang-orang manjat tebing di Parangndog karena udah capek duluan liat jalurnya..
Ngos-ngosan nyari mata air buat camp pengungsi gempa di Jogja..

Dan siang tadi, saya menerima kabar duka: Ciblek meninggal karena kanker yang menggerogoti perutnya, penyakit yang dideritanya entah sejak kapan, saya tidak tahu. Ciblek ternyata sudah meninggal sejak 3 hari yang lalu. Saya seperti ditampar dengan sangat keras. Sahabat saya, duet saya di atas perahu, orang yang selalu sabar menghadapi ledakan-ledakan emosi saya dulu, pergi tanpa sedikit pun saya tahu kabarnya.

Saya merasa sangat bersalah. Amat sangat bersalah.

Dan iri.

Kampret emang. Mati duluan, masih muda, disayang banyak orang.

You wet my eyes, man.

Fuck.

Serayu, 2004

14 tahun yang lalu

See? Ciblek is everyone’s favorite person

Ciblek adalah tipe manusia yang tidak memiliki pembenci, orang baik dengan stock kesabaran yang tidak pernah habis. Selamat jalan, ndul. Kami semua mendoakanmu.

Advertisements
  1. Sedih ada baca eee egi

    Like

    Reply

    1. Sedih le waktu da baketik ka :(

      Like

      Reply

  2. Selalu ada ya teman-teman yang tipenya kaya gini. Menyenangkan, bertalenta, kalem, jarang banget kedengaran kabarnya dan lalu …. tiba-tiba meninggalkan kita untuk selamanya.

    Turut berduka mas.
    Semoga almarhum mendapatkan tempat peristirahatan terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Aamiin.

    Like

    Reply

    1. Iya bart, kayak ditampar. Kita terlalu sibuk dengan dunia baru kita, dengan perdebatan ga ada abis di medsos, dengan kerjaan, trus lupa dengan orang2 yg pernah jd bagian penting dari perjalanan kita. Tiba2 dpt kabar begini, man, asli kayak ditampar bgt rasanya. Ke mana aja gw selama ini sampe kabar temen dekat sendiri ga tau… Sigh..
      Thank you doanya ya bart, aminnn

      Liked by 1 person

      Reply

      1. I feel you mas.

        Beberapa bulan lalu, aku juga ngalamin hal yang sama. Cuma bedanya aku sempat ketemu temanku untuk yang terakhir kalinya, meskipun kondisinya udah gak menyenangkan lagi.

        Dan di hari itu, aku baru sadar kalau terakhir kali aku ketemu dia dalam keadaan sehat adalah 3 tahun sebelumnya. Padahal aku cuma tinggal di Bogor, dan dia di Jakarta. Harusnya bisa lebih sering ketemu. Lalu seminggu setelah aku nengokkin, dia meninggal, jauuuuuuh di kampungnya, di Madura. Aku gak bisa melayat, karena malamnya harus melaut :-(

        Liked by 1 person

  3. Sedih 😭

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisements
%d bloggers like this: