[Solo Hiking Kerinci – Part 3] Pintu Rimba

Saya berada di gerbang yang seolah-olah menjadi pembatas dua dunia. Di tempat saya berdiri, di kiri dan kanan saya terhampar ladang milik penduduk. Jauh di belakang saya, membentang kebun teh yang luasnya seperti tak berbatas. Kebun teh itu adalah kebun teh tertua di Indonesia, sekaligus yang terluas dan tertinggi kedua di dunia setelah kebun teh Darjeling, Himalaya. Massive, huh?

Kebun teh Kayu Aro awalnya dimiliki perusahaan Belanda bernama Namblodse Venotschaaf Handle Vereniging Amsterdam. Belanda memang berambisi untuk ikut memonopoli perdagangan teh dunia kala itu. Ambisi mereka ini diwujudkan dengan membangun kebun teh seluas 3.000 hektar, dengan produksi yang tentunya ambisius pula, mencapai 5 ton per tahun! Ribuan pekerja didatangkan dari desa-desa sekitar hingga tanah Jawa, dan, setelah pembangunan kebun beserta pabriknya selama 3 tahun selesai, berdirilah kebun teh pertama di nusantara. Mungkin, orang tua Mak Jus adalah salah satu saksi mata yang menyaksikan peletakan bibit pertama teh Kayu Aro pada saat itu.

14 tahun setelah Indonesia merdeka, tahun 1958 kebun teh Kayu Aro diambil alih oleh pemerintah kemudian dikelola PTPN hingga sekarang. Saya jadi membayangkan, bagaimana suasana kebun teh ini waktu jaman Belanda dulu ya…

Mungkin ada pak mandor Belanda dengan setelan safari putih, memakai topi koboi berwarna putih pula, bertubuh tinggi besar dengan kumis berwarna tembaga, pagi itu keliling-keliling kebun teh naik sepeda ontel sambil tersenyum pada para pemetik teh yang sedang bekerja. Para pemetik teh tahu, itu adalah senyuman palsu, karena si mandor sesungguhnya kejam dan licik.

Semua orang masih ingat, si mandor pernah memfitnah Bakri, salah satu pemetik teh yang berasal dari Jawa, mencuri korek api Cricket miliknya. Semua itu dilakukan gara-gara cemburu. Si mandor menaruh hati pada Mia, gadis manis dari Jambi yang senyumannya mampu membuatnya mati suri. Sayang, meskipun berbagai usaha sudah dilakukannya, mulai dari memberi perhatian kecil seperti nanya udah makan apa belum, ngajak makan bareng, mengingatkan makan setiap pagi, siang, dan malam, dan memberi berbagai kue mulai dari kue pancong hingga red velvet, Mia tetap menolaknya.

“Aku lagi diet,” katanya ketus.

Sikap Mia juga tidak pernah ramah. Mia selalu berwajah jutek. Pernah sekali waktu si mandor coba-coba menggenggam tangannya, Mia langsung berteriak sekencang-kencangnya, “kya..”

Tapi, sikap berbeda ditunjukkan Mia saat bersama Bakri. Mereka sering makan bareng sekali pun menunya hanyalah indomie goreng yang dibagi dua. Suap-suapan pulak. Mia juga tidak pernah menolak setiap kali Bakri memberinya sekotak martabak coklat keju yang disiram susu kental manis, “Aww kesukaankuu uwuwu..” kata Mia. Yang lebih parah lagi, Mia adalah orang yang selalu mengingatkan Bakri untuk makan, dan mereka pulang kerja selalu jalan bareng. Biasanya mereka tiba di mess menjelang tengah malam, setelah sebelumnya mampir makan bakso, coto, atau nasi padang dulu.

Mia juga tidak segan memuji Bakri. “Ih, indomie buatanmu enak banget loh! Beda sama indomie buatan mama atau buatanku sendiri. Rahasianya apa siiih?” tanya Mia, manja.

“Daun ganja. Dicacah kecil-kecil, lalu ditaburin. Cobain deh.”

Si mandor, yang suka membuntuti mereka karena kepo, malah terluka sendiri mendengar kemesraan dua manusia itu. Api cemburu semakin menggelora di dadanya. Lalu, kurang dari sebulan setelah Bakri mendekati Mia, mereka akhirnya jadian. Orang-orang berbahagia. Si mandor menderita.

Semalaman dia menangis, berteriak, membanting segala yang ada di meja kerjanya, menghancurkan cermin besar di kamarnya, dan menenggak bergelas-gelas vodka hingga dia tak sadarkan diri. Yang ada di kepalanya hanyalah Mia, Mia, dan Mia. Lalu melintas wajah Bakri, lalu indomie goreng, lalu martabak coklat keju yang disiram susu kental manis. Malam kelam itu ditutup si mandor dengan sebuah janji, “Akan kusingkirkan Bakri dari kebun ini!”

Bisa saja si mandor langsung memecat Bakri, tapi, itu tidak akan menguntungkannya. Mia akan dendam kepadanya, dan tentu saja Mia tidak akan mau menerima cinta si mandor. Maka, disusunlah rencana untuk memfitnah Bakri sekaligus membalaskan sakit hatinya. Senyum penuh kelicikan tersungging di wajahnya. Dia berbaring dengan puas, seolah-olah rencananya telah sukses, sambil membayangkan Mia jatuh ke pelukannya.

Semua berjalan sempurna. Fitnahnya berhasil dijalankan esok harinya. Dimulai dari wajah panik dan histeris ketika dia merogoh-rogoh kantong celana untuk mencari korek apinya, lalu para pekerja mengerubunginya, lalu heboh karena korek apinya ternyata hilang, dan tau-tau ditemukan di dalam tas pinggang Bakri. Semua orang terperanjat tidak percaya.

Para pekerja kebun teh terbagi dua, sebagian mendukung Bakri, sebagian lagi mendukung si mandor. Mia sendiri tidak percaya Bakri melakukan perbuatan laknat itu, tapi skenario si mandor begitu sempurna hingga Mia tidak sempat tabayyun kepada Bakri maupun si mandor. Semua berjalan begitu cepat, dan, tiba-tiba Bakri sudah diarak menuju tahanan.

Pencurian korek api bukan hal sepele di masa perang, karena korek api memiliki berbagai macam kegunaan untuk pertempuran, seperti, bakar rokok. Berita pencurian itu menjalar secepat kilat menuju telinga Mneer Karel, kepala mandor, dalam hitungan detik saja.

God verdomd! Kakkerlak! Dasar BAJINGAN CRICKET!!” maki Mneer Karel. “Gantung Bakri!”

Bakri pun digantung.

Sejak itulah para pencuri korek api Cricket dipanggil Bakri. Bajingan kriket.

***

Saya berjalan memasuki pintu rimba.

Next: [Solo Hiking Kerinci – Part 4] Jalur Setan!

Advertisements
    1. Hahahahaha monmaap pemirsa

      Like

      Reply

  1. […] Next: [Solo Hiking Kerinci – Part 3] Pintu Rimba […]

    Like

    Reply

  2. Balikin…. 3 menit saya dan kuota internet saya.

    Sekarang.

    Like

    Reply

      1. Pantes ya kok balik lagi ke perkebunan… Bhaik.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisements
%d bloggers like this: