6 Hari Trekking ke Mardi Himal 1 – Macchapuchare

Awalnya rencana kami adalah ke Annapurna Base Camp. Diana, Binbin, dan Agnes sudah begitu bersemangat untuk menjejakkan kaki di titik awal pendakian ke Annapurna, salah satu dari 14 puncak berketinggian lebih dari 8000 meter. Diana rajin latihan panjat dinding, Binbin rajin olahraga rutin, Agnes rajin lari dan nge-gym. Saya rajin istirahat.

Lalu, seminggu sebelum tanggal keberangkatan kami, saya mendapat kabar yang tidak mengenakkan. Jalur trekking ke Annapurna Base Camp (ABC) ditutup karena “HEAVY SNOW AND AVALANCHE!”

Bangsat. Belum juga berangkat sudah ada masalah.

Saya memutar otak. Tentu saja gagal karena kalo otak saya diputar nanti saya mati.

Setelah browsing-browsing mencari alternatif jalur lain, saya akhirnya menemukan jalan keluar: ABC dipindah ke Papandayan saja! *lalu dibunuh Diana*

Mardi Himal.

Sebenarnya saya sudah cukup lama mengetahui tentang jalur trekking Mardi Himal dari tulisan Atre di blognya, tapi saya tidak pernah mempertimbangkan untuk menjajal rute itu. Selain kurang terkenal, nama Mardi Himal juga kurang famous. Eh itu sama aja ya? Maap.

Jalur Mardi Himal berada persis di sebelah timurnya jalur ABC. Bedanya, jalur ini tidak membawa kita ke basecamp Annapurna, tapi mendekat ke puncak Machapuchare, salah satu puncak tinggi di Himalaya yang belum pernah di-summit-i oleh siapa pun. Disummiti. Ivan Lanin bisa ngamuk nih.

Saya lalu menawarkan jalur alternatif itu ke mereka lewat grup whatsapp. “Eh geng, kalo misalnya sampe Nepal dan jalur ABC masih tutup, kalian mau nggak trekkingnya dipindah ke Mardi Himal aja?”

“MAU,” jawab mereka. Shit this is too easy hahaha..

Maka, berangkatlah kami menuju Kathmandu, Nepal, di subuh yang syahdu itu. Semuanya membawa ransel dan koper. Ransel untuk trekking, dan koper, untuk belanja tentunya.

KATHMANDU

Seperti biasa, yang perlu dilakukan di Kathmandu adalah mengurus Visa on Arrival di bandara sebelum keluar dari portal imigrasi, mengurus permit trekking di Nepal Tourism Board, dan membeli tiket Tourist Bus untuk ke Pokhara. Kami menghabiskan waktu 2 hari di Kathmandu. Setengah hari untuk mengurus permit, dan satu setengah hari untuk BELANJA. BELUM NAIK GUNUNG SUDAH BELI OLEH-OLEH.

Oya, ada kenaikan harga permit masuk area konservasi Annapurna atau ACAP. Tahun lalu masih Rs 2000, tahun ini sudah jadi Rs 3000 (1 Rs = Rp 135).

Kathmandu!

Cashmere, salah satu buruan tiga dara

POKHARA

Di Pokhara, kegiatannya murni hanya belanja. Tapi kali ini bukan buat oleh-oleh lagi, sudah berkembang untuk dijual lagi di kampung halaman. Insting bisnis Diana semakin merajalela, mulai dari karpet, sarung bantal, gelang batu, semuanya diborong untuk meningkatkan kesejahteraan hidup Mika dan Miku. Mulia sekali.

Dari Pokhara, besok paginya meluncurlah kami menuju desa Kande, entry point jalur trekking Mardi Himal. Kami memutuskan untuk meninggalkan jalur ABC dan memilih jalur Mardi Himal karena hingga kami tiba di Pokhara, jalur ABC masih ditutup. Pertimbangan lain adalah jalur Mardi Himal bisa diselesaikan dalam 6 hari (jalur ABC butuh 7 hari), jadi kami punya tambahan waktu sehari lagi untuk, tentu saja, BELANJA DI POKHARA.

TREKKING DAY 1 : DEURALI

Jam 9 pagi kami mulai trekking dari desa Kande. Sujan, local guide kami yang sudah jadi langganan saya sejak tahun lalu, meragukan kami bisa sampe di Deurali, lodge yang jaraknya lumayan jauh dari titik start. “We will stay at Australian Camp for today,” katanya yakin. Baique.

2 jam kemudian kami sudah tiba di Australian Camp. Sujan tersipu malu lalu mengubur kepalanya dalam tanah.

Australian Camp

Karakter jalur trekking Mardi Himal ini berbeda dengan ABC. Kalo jalur ABC kita akan naik turun punggungan beberapa kali, menyeberangi sungai, dan didominasi tangga berjumlah ribuan. Jalur Mardi Himal tidak akan menyeberang sungai, karena jalurnya mengikuti puncak punggungan dari awal sampe finish. Itu juga yang membuat jalur ini lebih menyenangkan karena view yang spektakuler dari ketinggian, dan tidak begitu melelahkan karena nggak naik turun mulu.

Sejam lebih jalan dari Australian Camp, kami tiba di Pothana, desa kecil yang cukup padat dengan lodge dan restoran. Pothana adalah tempat check point-nya Mardi Himal. Di sini TIMS card dan ACAP diperiksa di counter check in (tanpa TIMS dan ACAP, kita tidak akan diperbolehkan melanjutkan perjalanan). Nanti saat turun dua permit itu akan diperiksa lagi.

Kami makan siang di Pothana. Binbin, Agnes, dan Diana langsung jatuh cinta dengan menu “ginger honey lemon tea” dan “korean noodle soup” yang mirip banget makanan kebanggaan bangsa kita: indomie rebus bertelur. Bedanya yang versi Korea lebih pedas.

Check point Pothana

Maksi maksi

Selesai makan kami melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini targetnya sudah diganti dengan Deurali, yang menurut Sujan akan kami capai paling cepat sore hari.

Jam 2 siang kami sudah tiba di Deurali. Sujan mengubur kepalanya lagi di lapangan sepakbola.

Lodge di Deurali ini bisa dibilang mewah untuk standar lodge di jalur trekking. Bangunannya besar, 3 lantai, dan beberapa kamarnya ada kamar mandi dalam termasuk kamar kami berempat. Kamar mandinya juga bagus, bersih, plus ada semprotan di kloset duduknya! Uh heaven!

That’s Deurali, darling

Lodge di Deurali, mewah!

Malam itu kami tidur jam 9. Temperaturnya masih 10-12 derajat celcius, belum begitu dingin dan menurut saya masih nyaman untuk nongkrong-nongkrong ngopi di teras kamar.

TREKKING DAY 2 : LOW CAMP

Jam 7.30 kami mulai jalan dari Deurali setelah sarapan. Trek di hari kedua lumayan jauh, sekitar 8 jam untuk menuju ke Low Camp, perhentian kami selanjutnya. Di hari kedua ini kecepatan jalan saya mulai menurun. Trio centil, Agnes, Diana, dan Binbin, bersaing sehat untuk jadi yang terdepan. Sujan sudah tidak berkomentar apa-apa lagi, dia berjalan sambil mendendangkan lagu-lagu Nepal yang namaste.

Hampir jam 12 siang kami tiba di Forest Camp, desa kecil di tengah-tengah Deurali dan Low Camp. Nafsu makan kami menggelora gara-gara hanya sarapan seadanya tadi pagi dan ditambah lagi dengan tanjakan yang mulai rese. 1 pan pizza, 1 porsi Dal Bhat, 3 mangkok mie rebus, 3 piring telor dadar, dan 1 piring bakmi goreng porsi jumbo dihajar dalam sekejap. Diet? What diet?

Forest Camp

Korean noodle soup, indomie rebus telor versi pedas

Pizza keju tomat. Enak banget

Dengan perut buncit, kami meneruskan perjalanan jam setengah dua siang. Untungnya, walopun treknya panjang, bonusnya cukup banyak. Di kejauhan selalu tampak puncak Macchapuchre yang runcing dan berselimut salju, jadi lelahnya tidak terlalu terasa. Boong deng, tetep capek man.

Jam 16.30 kami tiba di Low Camp. Karena jumlah trekker yang cukup banyak, kami memesan kamar yang isinya 4 biar semuanya ngumpul jadi satu, dan trekker lain bisa kebagian kamar juga. Temperatur di Low Camp saat malam hari turun hingga di bawah 10 derajat celcius. Untuk menghangatkan badan, Diana meracik kopi vodka yang surprisingly rasanya ENAK BANGET. Itu harusnya sudah bisa jadi menu baru di cafe-nya Diana.

Trek ke Low Camp

Low Camp

TREKKING DAY 3 : HIGH CAMP

Jalurnya santai karena dekat. Kami baru jalan jam 8.30 pagi dengan target tiba di High Camp sebelum jam 12 siang. Treknya cukup terjal, sudah mulai bersalju di beberapa bagian jalan, dan pemandangannya semakin kece. Kami melewati Middle Camp dan mampir makan momo yang enak banget di Panorama Lodge. Karena momonya baru dibuat ketika dipesan, alhasil (anjir alhasil) kami jadi leyeh-leyeh sambil menunggu momonya mateng selama hampir dua jam.

Setelah menunggu momo mateng selama dua jam dan menghabiskannya dalam waktu dua menit, kami meneruskan perjalanan lagi ke High Camp. Salju benar-benar sudah menutupi jalur trekking, dan dari langit, butir-butir es mulai turun dengan deras. Tidak ada pemandangan apa-apa lagi sepanjang jalan karena tertutup kabut tebal.

Heading to High Camp

High Camp

Kami tiba di High Camp jam 13.00 lebih dikit, molor gara-gara momo. Semua lodge terisi penuh. Untungnya Sujan sudah membooking 1 kamar kapasitas 4 orang sejak kemarin. Saat sedang makan siang di dining room, beberapa trekker yang datang belakangan harus mencari lodge lain karena lodge kami yang penuh. Bahkan, beberapa harus kembali turun ke Middle Camp akibat tidak kebagian kamar di semua lodge yang ada di High Camp. Kata Santos, pemilik lodge tempat kami menginap, “Biasanyo indak seramai ini bang.” Loh kok dia jadi berlogat Padang.

“Mardi Himal is usually not so crowded. This is a less crowded trek compared to ABC. But, because ABC is closed, everybody is coming here,” katanya lagi.
“So this is like getting a collapses durian for you?” tanya saya.
“What is collapses durian?”
“Big fortune.”
“Aaa, YES. Yes.”

Kami berempat duduk di pojokan dining room, memperhatikan orang-orang dari berbagai negara yang sedang makan. Atau orang-orang yang sedang bermain kartu. Atau orang-orang yang sedang menghangatkan diri di depan perapian. Tapi dari semua rombongan itu, ada satu rombongan yang paling menarik perhatian kami.

Di meja seberang, 4 orang bapak-bapak dari Jepang sedang duduk bersila sambil mengobrol dalam bahasa Jepang. Ya iyalah, masak dalam bahasa Padang. Dari terkaan kami, mereka berusia di atas 60 tahun karena rambutnya sudah beruban mayor. Mayoritas uban, maksudnya. Wajah-wajahnya terlihat ramah. Salah satu dari mereka berwajah seperti Pat Morita, pemeran Mr. Miyagi di film Karate Kid.

Diana: “Ih lucu yaa, udah tua-tua tapi masih jalan bareng, naik gunung lagi!”
Agnes: “Iya ih, friendship goal banget.”
Binbin: “Kita kalo udah tua-tua masih bisa jalan kayak mereka ga yaa?”
Regy: “Botol vodka tadi mana ‘Nes?”

Suasana di dining room sepanjang hari itu betul-betul menyenangkan. Hangat, ramai, orang-orang mengobrol dengan penuh semangat. Trekker antar negara saling bertukar cerita dan saling mempelajari bahasa masing-masing. Trekker dari Indonesia sibuk makan pop corn.

Jam 8 malam, setelah semua trekker selesai makan, kami disuruh bubar oleh Santos. “It’s time to sleep my dear friends,” katanya. Kami bubar dengan damai tanpa perlawanan dan pulang ke kamar masing-masing. Sekejap kemudian kasur-kasur dikeluarkan dari balik dapur, dan dialas di tempat kami duduk dan makan sebelumnya. Ooh, rupanya dining room itu juga merangkap sebagai tempat guide dan porter istirahat, makanya kami dibubarkan. Sujan melambaikan tangannya kepada saya, “Good night darling.”

Temperatur malam itu turun ke angka -15 derajat celcius.

TREKKING DAY 4 : SUMMIT ATTACK!

Kami bangun pagi-pagi sekali karena jam 5.30 kami sudah harus mulai jalan. Bukan mengejar sunrise, tapi mengejar waktu sebelum salju mencair karena seluruh permukaan tanah sudah tertutup salju tebal. Salju yang mencair karena matahari akan menambah tingkat resiko yang harus dihadapi. Setelah memasang crampon pada sepatu Diana, Binbin, dan Agnes, kami memulai perjalanan, etape terakhir, menuju Upper View Point di ketinggian 4100 mdpl.

Photo: Diana (IG @kebobunting)

The Annapurnas

Langit masih gelap.

Di kejauhan, puncak Annapurna dan Macchapuchre tampak bersinar diterpa bias sinar matahari yang perlahan naik dari cakrawala. Puluhan trekker berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang tertutup salju.

Di barisan paling depan ada rombongan abege Jerman, disusul tim dari Amerika. Rombongan Jepang juga terlihat tangguh dan mengimbangi anak-anak muda itu. Rombongan kebanggaan bangsa Indonesia ada di bagian paling belakang, sibuk istirahat menikmati alam. Angin dingin menusuk bagian kulit yang tidak terlindung, meninggalkan perih dan rindu yang membekas di hati hingga kini. Apaan sih.

Rombongan kebanggaan bangsa mulai terpisah makin jauh dari rombongan besar. Lalu, rombongan kebanggan bangsa terpecah menjadi dua: Diana-Binbin-Sujan dan saya dan Agnes. Mereka bertiga jalannya kenceng betul, kami terpisah sejauh 15 menitan. Dari arah timur, sinar matahari mulai keluar menerangi pucuk-pucuk puncak gunung, menyajikan warna-warni yang luar biasa indah. Saya terpukau.

Saya dan Agnes berhasil menyusul trisula maut kebanggaan Indonesia, lalu kami ditinggal lagi. Ternyata mereka menunggu kami hanya untuk foto-foto di satu spot yang cukup keren, setelah itu mereka lanjut ngebut. Dalam perjalanan naik, kami berpapasan dengan rombongan abege Jerman yang tadi menjadi ujung tombak barisan trekker. Mereka sudah dalam perjalanan turun. “ANJIR MEREKA UDAH TURUN AJA!” kata saya pada Agnes. “Iya ih kampret,” jawabnya. Ih kok ngegas?

Tapi tidak lama setelah itu, kami jadi makin tercengang. Grup Jepang, bapak-bapak 60-an itu, sudah turun juga. “HAAAIII,” sambut kami. “BYEEEE,” jawab mereka sambil tersenyum senang. Gokil, bapak-bapak tapi fisiknya masih prima banget. Semuanya nenteng DSLR pulak.

***

Setelah 3,5 jam menanjaki jalur yang menurut saya paling susah di trek Mardi Himal (terjal, licin, naik-turun, dan curam), akhirnya saya dan Agnes tiba juga di Upper View Point, 4100 meter dari permukaan laut, dengan suhu minus 12 derajat celcius! Sujan, Diana, dan Binbin menyambut kami dengan gembira ria. Kami berpelukan, foto-foto, bakar cerutu, lalu Diana push-up. Random abis emang cicik satu itu.

Saya hanya punya satu kata untuk menggambarkan view dari titik itu: Bagus banget anjir! Spektakuler! Wuihh!

Photo: Diana (IG @kebobunting)

Photo: Diana (IG @kebobunting)

Photo: Diana (IG @kebobunting)

***

Bersambung ke Bagian Kedua~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisements
%d bloggers like this: