Everest Base Camp Trekking – Hari 2: Monjo ke Namche Bazaar, Desa Terbesar di Jalur EBC

Saya terbangun jam 8 pagi. Rahman masih ngorok di dalam sleeping bag-nya. Suhu udara pagi itu 10 derajat celsius, cukup dingin untuk mencegah diri ini keluar dari sleeping bag. Saya segera merapikan barang-barang saya, lalu turun untuk sarapan.

Ruang makan sudah sepi. Hampir semua tamu lodge sudah berangkat. Hanya tersisa satu grup kecil, opa-opa dari Inggris, yang sedang bersiap untuk jalan sambil membereskan tagihan mereka. Umumnya orang-orang memang mulai jalan jam 7 pagi biar bisa lebih santai di jalan tanpa kuatir kemalaman. Kami jam segitu sih masih pingsan.

Saya duduk di pojok ruangan lalu memesan roti bakar dan telor dadar dobel plus minuman favorit saya setiap kali trekking di Himalaya: Ginger Honey Lemon Tea. Jam 9 Rahman turun ke ruang makan lalu memesan nasi goreng. “Bused porsinya banyak banget,” kata Rahman saat pesanannya nongol. Porsi makanan di Nepal memang gokil sih. Untuk kami yang makannya banyak saja rasanya berlebihan, bahkan seringkali kami pesan satu porsi lalu dibagi dua. Ciee so sweet. Loh kenapa malah cengin diri sendiri. Bangsat.

Selesai sarapan, boker, ngerokok, ngopi, dan bayar-bayar, kami packing lalu berpamitan dengan owner lodge. Mereka antusias banget begitu tahu kami datang dari Indonesia. “Coffee from your country is really really good, and famous!” kata mas-mas owner. Di lodge ini memang ada kafe kopi lengkap dengan mesin espresso dan kawan-kawannya. “I’ll bring you coffee from Indonesia next year, mas,” jawab saya. Dia salto kegirangan.

Mount Kailash Lodge, Monjo

Jam 10 kami mulai jalan. Cuaca pagi itu bagus banget, cerah, dengan bau tai kuda dan yak yang menyegarkan. Tidak jauh dari lodge, kurang lebih 10 menit jalan, kami tiba di ticket counter kedua. Di dekatnya ada check point yang dijaga tentara. Harga permit yang diurus di sini 3000 rupee atau Rp 375 ribu. Setiap trekker yang datang dan keluar melalui titik ini wajib menunjukkan dua permit itu. Jangan harap bisa lewat tanpa permit.

Ticket Counter dan Check Point di Monjo

Permit kedua, 3000 rupee

Trek dari Monjo ke Namche mulai nggak santai. Memang sih awalnya cuma turun tangga cukup panjang, menyeberangi lembah, melewati suspension bridge yang panjang, lalu jalurnya cenderung datar walaupun sesekali harus naik turun mayan terjal. Tapi, setelah 3 jam jalan dari Monjo dan tiba di Larcha Dovan, jalurnya langsung menanjak tiada henti. Tanjakannya memaaaaanjang non-stop hingga Namche Bazaar. Kami butuh hampir 3 jam untuk tiba di Namche jam 4 sore dengan kondisi lelah dan lapar. Kami memang tidak makan siang karena setelah Monjo tidak ada lagi desa untuk mampir makan. Untung Rahman sempat belanja snickers dan oreo di Kathmandu buat ngeganjal perut siang itu. Andai belinya di jalur trekking, harganya bakal mahal banget. Oreo isi 10 tau gak berapa harganya di sini? Rp 50 ribu! Rasanya kayak lagi trekking di erport.

Puncak Thamserku di kejauhan, 6600 meter

View dari Larcha Dovan

Jalur dari Monjo ke Namche. Porter-porter di sini kuat-kuat banget, mereka sudah biasa membawa beban hingga lebih dari 90 kg sendirian!

Yak. Hewan mirip sapi tapi versi macho yang bertanggung jawab atas penyebaran tai di sepanjang jalur trekking

Check point sebelum Namche Bazaar

Namche Bazaar

Saya baru paham kenapa Namche ada Bazaar-nya. Rupanya di sini segala macam kebutuhan ada, mulai dari kebutuhan ruah tangga hingga trekking, dari yang merk lokal, KW, sampe yang original tersedia. Lodge banyak banget, bar dan kafe juga bertebaran. Persis Thamel tapi mini

Di Namche, saya agak rewel soal penginapan. Waktu di Monjo memang agak ribet kalo harus milih-milih lodge karena kami tibanya sudah malam, dan ternyata toilet tempat kami menginap semalam tipe klosetnya yang duduk tanpa semprotan. Gimana ceboknya coba? Maka di Namche saya harus nyari lodge dengan kloset duduk yang ada semprotannya. Atau kloset jongkok sekalian, yang penting ceboknya pake aer, bukan kertas. Memang sih, di desa-desa setelah Namche akan susah nyari spek yang begitu, tapi, di Namche kan lodgenya banyak banget. Kalo bisa milih, kenapa enggak?

“Nggak ada yang kayak gitu dul,” kata Rahman. Dia memang sudah terbiasa dengan berbagai jenis style boker, karena sering bolak-balik ke Cina.
“Ada, pokoknya ada. Cari dulu. Kalo gak ketemu ya udah, tapi pokoknya sekarang cari dulu.”

Rahman yang sudah cape terpaksa mengikuti saya mencari kloset bersemprotan. Dan benar, lodge-lodgenya rata-rata kloset duduk keringan. Saya mulai putus asa.

“Ngopi dulu yuk, sebat sambil istirahat,” ajak saya saat kami melewati sebuah hostel dengan tempat ngopi outdoor yang asik. Rahman mengangguk setuju. Ownernya masih muda, dia menyambut kami dengan super ramah dan mengajak kami duduk di dalam saja. “It’s cold outside,” katanya. “Nah, that’s okay, we want to ngopi and sebat outside,” jawab saya.

Kami memesan cafe latte lalu ngopi sambil liatin orang lewat. Hari mulai gelap, padahal baru jam 5 sore. Suhu udara turun ke 9 derajat. Dan entah kenapa, kopi dan udara dingin bikin produksi pipis lebih progresif. Saya meletakkan gelas kopi saya, lalu masuk ke toilet dan bersorak gembira.

“ADA SEMPROTANNYAAAAAAA WOOHOOOOO!”

Maka menginaplah kami di situ.

jam 5 sore. 9 derajat celsius. Brrr!

Menu makan malam saya: Steak Yak. Alot banget hahaha, Yak-nya terlalu berotot gara-gara keseringan naik gunung

Kamar tempat kami menginap di Namche. Dorm room yang sungguh namaste

RESUME

  • Rute hari kedua: Monjo – Namche Bazaar
  • Jarak tempuh: 8 km
  • Waktu tempuh: 6 jam
  • Ketinggian Namche: 3440 meter
  • Permit trekking: Rp 375.000
  • Makan pagi di Monjo: Rp 40.000
  • Makan malam dan ngopi di Namche: Rp 135.000
  • Menginap di Hostel Bazaar, Namche: Rp 100.000 per orang (sudah termasuk sarapan, wifi, dan charging)
  • Total pengeluaran hari kedua: Rp 650.000
  1. Dulu waktu awal-awal traveling juga paling ribet soal urusan toilet. Harus yang jongkok dan ada flushnya. hhihi.. Tapi makin ke sini sih sudah bisa adaptasi. Kalau travelingnya ke Eropa/Australia nggak mungkin nemu yang ada flushnya kak. tissu semua :-D

    Like

    Reply

    1. Haduuuuu ampun >.<
      Ga kebayang kalo bener-bener harus kering ahahahaha…

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: