Everest Base Camp Trekking – Hari 5: Tengboche ke Dingboche

Jam 7 pagi. Saya keluar dari lodge lalu duduk di halamannya, menikmati segelas lemon tea yang ditambahkan jahe dan madu. Suhu pagi itu belum bergerak naik dari angka 1 derajat celcius (semalam bahkan -5 derajat!). Tengboche masih sangat sepi, hanya ada beberapa warga desa yang sudah memulai aktivitasnya. Seorang biksu tampak sedang berdoa di depan monastery, lalu sesaat kemudian ia menghilang masuk ke dalamnya.

Tengboche Monastery, atau disebut juga Thyangboche Monastery, adalah monastery terbesar di area Khumbu yang dibangun tahun pada tahun 1916 oleh seorang biksu bernama Lama Gulu (Lama adalah biksu buddha tibetan). Monastery yang berdiri saat ini bukan lagi versi originalnya, tetapi hasil renovasi akibat hancur dua kali: yang pertama pada tahun 1934 karena gempa bumi, dan yang kedua pada tahun 1989 karena kebakaran.

Kalau pernah nonton film EVEREST, monastery ini adalah salah satu set adegan penting di film itu. Inget nggak adegan yang pendaki-pendakinya ketemu pertama kali trus pada kenalan? Bukan, bukan itu. Adegannya yang pendaki-pendakinya didoain sama biksu, terus abis itu satu-satu dikalungin kain putih. Fun fact: Tenzing Norgay, sherpa yang menemani Sir Edmund Hillary menjejakkan kaki pertama kali di puncak Everest, pernah tinggal di situ untuk belajar sebagai calon biksu.

Tengboche Monastery

Saat saya sedang menyalakan rokok, dua orang trekker melintas di depan saya.

“Namaste!” sapa mereka.
“You guys leaving now?” tanya saya.
“Yes, gonna be a long day man, better start early.”

Njing, nyuri start.

Kami melanjutkan perjalanan dari Tengboche hampir jam 9 setelah sarapan dan membereskan packingan kami. Dingboche, desa tujuan kami berikutnya, terletak cukup jauh. Kami harus melewati Pangboche dan Shomare dulu sebelum bertemu dengan tanjakan terakhir menuju pintu masuk Dingboche. 30 menit pertama setelah meninggalkan Tengboche jalurnya masih cukup nyaman, menurun dan kadang-kadang flat. Kami juga semakin sering bertemu dengan rombongan yak dan kuda yang membawa logistik untuk lodge-lodge di jalur trekking.

Suspension bridge setelah Tengboche

Karena yak hanya ada di Himalaya, saya jadi sering memperhatikan tingkah laku mereka. Setelah melakukan observasi selama beberapa hari, saya dengan bangga bisa menyampaikan dua fakta gak penting tentang mereka. Yang pertama adalah soal nginjek tai. Jadi di jalur trekking itu suka ada tumpukan tai yak dan tai kuda kan ya. Nah, kalo rombongan yak ini ketemu tai, mereka menghindar, gak mau nginjek tai. Kadang jalannya jadi memutari tai, kadang sekedar dilangkahi, kadang melipir sampe keluar jalur. Tapi, tai yang dihindari hanya tai yang segar. Kalo yang sudah kering dan ambyar sih diinjek juga.

Terus yang kedua, di setiap rombongan yak itu pasti ada aja yang rebel. Yak-yak ini kan bergerak dalam satu rombongan, dan di belakang rombongannya itu gembalanya. Kalo rombongan yaknya panjang, lebih dari 10 ekor, agak susah dikendalikan. Selalu ada saja yang lagi asik-asik jalan tiba-tiba keluar jalur, terus, makan. Apalagi kalo mereka ketemu rumput atau semak yang hijau segar, satu atau dua ekor yak langsung melipir dan ngunyah. Gembalanya suka ngamuk-ngamuk kalo liat itu. Yaknya dimarah-marahin, terus dikepret di pantat. Ada sih yang langsung nurut, tapi kebanyakan cuek aja lanjut makan sampe kenyang, baru kemudian lanjut jalan lagi.

Yak. Kalo udah gondrong, bulunya dicukur terus dijadiin syal

Satu jam setelah meninggalkan Tengboche, kami tiba di pintu masuk Pangboche. Di belakang saya dan Rahman ada seorang opa-opa lokal yang sejak tadi mengikuti kami, mungkin satu jam terakhir. Setiap kali saya menengok ke belakang, opa itu selalu ada. Kami istirahat, dia juga istirahat. Kami jalan, dia ikut jalan. Kami jalan cepat, dia tetep aja keliatan mulu. Asli kuat banget. Karena penasaran, saya berhenti dan menunggu si opa menyusul kami, persis di depan gerbang desa. Kami akhirnya berkenalan, dan rupanya dia memperhatikan kami juga sejak tadi.

“Are you indonesian?” tanyanya.
“Yess, how do you know? Usually people will think that we are nepali.”
“I can tell the difference, i have a best friend from indonesia,” kata si opa lagi sambil terkekeh riang. Dia lalu mengeluarkan selembar uang dari dompetnya.
“He gave me this money, a rupiah money.” Wow, seratus ribu rupiah. Ingin rasanya kutukar dengan 10 ribuan.
“I’m Regy by the way, and this is Rahman. Nice to meet you.”
“I’m Ang Lakpa, nice to meet you too,” jawabnya sambil bersalaman dengan kami.
“If i may know, how old are you sir?”
“I’m 80.”

JENGJEEENG!

Gokil. 80 tahun dan kami kesusul mulu dari tadi sama dia. Setelah ngobrol beberapa saat, saya jadi tau kalo ternyata Ang Lakpa rumahnya di Pangboche. Jalan berkilo-kilo meter sudah biasa banget buat dia. Bahkan, pagi ini, dia startnya dari Punki Thenga, tempat kami makan siang kemarin. Pantes…

Ang Lakpa

Kami berpisah dengan Ang Lakpa di pertigaan setelah gerbang Pangboche. Rumahnya di sisi atas desa, masih naik bukit dikit. Jalur trekking kami melewati bagian bawah Pangboche yang lebih flat. Pangboche sendiri terletak di ketinggian 3900 meter. Saya dan Rahman memutuskan untuk lanjut jalan dan makan siang di desa berikutnya, Shomare, karena sebaran tai kuda dan yak di Pangboche sangat merata, menghilangkan selera makan kami.

***

Jalur dari Pangboche ke Shomare ini menipu. Kelihatannya flat, nyatanya lumayan nanjak. Prediksi awal saya, dalam 30 menit kami sudah tiba. Ternyata dua jam man. Kami harus mengganjal perut lapar kami dengan sebungkus Oreo yang dibeli di Tengboche, harganya 50 ribu rupiah lol. Begitu tiba di Shomare, saya langsung memesan dal bhat dan omelette, Rahman memesan kentang dan telor ceplok dobel. Kami makan seperti kesetanan.

Desa Shomare

“How far is Dingboche from here didi?” tanya saya pada mbak owner teahouse. Didi adalah panggilan untuk wanita yang lebih tua. Semacam ‘sist’ lah ya.
“For me, it’s not more than two hours,” jawabnya.
“For us?”
“Hmm.. You start from Tengboche at 9, arrived here at 12, i guess you will reach Dingboche before 4.
“You sure?”
“No.”
LOL.

Tidak ada desa lagi antara Shomare dan Dingboche. Mau tidak mau kami harus mencapai Dingboche sebelum gelap, karena kalo sudah gelap, ya tetep gak apa-apa juga. Saya berjalan lebih dulu sementara Rahman masih sibuk memasukkan butiran kentang sisa ke dalam tasnya. Karena porsi makanan di nepal luar biasa jumbo, kentang rebus pesanannya banyak sisa. Ya gimana gak bersisa, yang disajiin ada kali 12 biji segede-gede apel.

Jalur dari Shomare ke Dingboche

Jalur trekking dari Shomare ke Dingboche bervariasi. Nanjak, flat, turunan, nanjak lagi, gitu aja terus pokoknya. Angin dingin dan oksigen yang makin tipis membuat kami semakin sering istirahat. Setelah jalan dua jam, kami tiba di pertigaan jalan. Kalo lurus, tembus ke Periche. Dingboche belok kanan.

“I suggest you guys to go to Periche,” kata seorang trekker yang berpapasan dengan kami di pertigaan itu. Dia sedang berjalan turun. “Dingboche is quite far from here, maybe more than one hour. Periche is only 30 minutes.”

Periche itu desa yang bersebelahan dengan Dingboche. Mereka dipisahkan satu bukit tinggi dan sungai. Bedanya, Dingboche adalah desa yang lebih besar dari Periche, dan kami memang ingin melihat desa yang dikenal sebagai desanya Sherpa. Penduduk desa Dingboche sebagian besar adalah suku Sherpa. Selain itu, Dingboche lebih terlindung dari angin karena letaknya di atas lereng. Periche terletak di lembah, persis di pinggir sungai. Dingin cuy.

Kami belok kanan ke arah Dingboche. Dari pertigaan itu, jalanannya menurun ke arah sungai lalu menyeberangi satu jembatan kecil. Tau kan yang menanti setelah menyeberang sungai? Tepat sekali saudara-saudara, TANJAKAN AFGHAN. Kalau hari-hari sebelumnya masih banyak pohon yang menghalangi angin, kali ini, setelah Shomare, pohon-pohonnya sudah sangat jarang. Medan menjadi terbuka, pohon berganti semak-semak. Tidak ada lagi tempat berlindung dari terpaan angin dingin. Matahari juga sudah mulai bersembunyi di balik gunung. Saya melirik ke jam tangan saya. 16:00.

Sungai sebelum Dingboche. Sungai ini adalah terusan dari Khumbu glacier

Untungnya tanjakan ini tidak sepanjang yang saya bayangkan. 30 menit kemudian, jam 16:30, kami tiba di desa yang berketinggian 4410 meter itu. Dari puncak tanjakan afghan, Dingboche terlihat sangat jelas. Tidak sebesar Namche, tapi lebih besar dari desa-desa lainnya di jalur trekking EBC. Dulu ini adalah desa terakhir sebelum Everest Base Camp. Lobuche, Thukla, dan Gorak Shep, adalah desa-desa di atas Dingboche yang baru muncul setelah jalur trekking ke EBC terbuka. Saya menyalakan sebatang rokok sambil menunggu Rahman tiba dari belakang.

Dingboche, desa para sherpa

Cafe 4410. Sesuai namanya, ketinggian di sini adalah 4410 meter. Kopinya enak, wifinya kenceng!

Di Dingboche ada banyak lodge. Di sini bahkan ada cafe super gaul, namanya Cafe 4410. Selain menyediakan berbagai jenis kopi, cafe ini juga punya WiFi loh! Cukup dengan 200 rupee atau 25 ribu rupiah, kita langsung bisa exist di sosmed karena WiFi-nya kenceng banget. Saya dan Rahman memilih lodge yang dekat dengan cafe itu, biar signal WiFi-nya masih dapet walopun kita udah balik ke kamar HAHAHA.

Kami akan menginap dua malam di Dingboche karena harus melakukan aklimatisasi yang kedua di sini sebelum melanjutkan perjalanan ke Lobuche, 4900 meter. Malam itu suhu turun hingga hampir -10 derajat celcius…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: