Toilet-toilet di jalur trekking Nepal

Perkara buang hajat memang selalu menjadi perkara paling penting dalam kehidupan. Mau ditahan sekuat tenaga, pake metode pegang batu atau menyilangkan kaki (sembari mengelap keringat dingin), tetap saja ketika saatnya tiba, ia akan menyeruak keluar. Berak adalah karma. Segala sesuatu yang masuk, pada akhirnya akan keluar juga. Yang bapak-bapak pasti langsung kepikiran joke mesum nih..

Saat pulang dari traveling dan bertemu kembali dengan toilet di rumah, beuh, rasanya sangat melegakan. Boker di rumah sendiri adalah kesenangan tiada tara karena kita seketika merasakan “a homey atmosphere” di dalam toilet kita. Tapi gak mungkin kan bawa-bawa toilet. Dan karena saya senang traveling, ya mau gak mau harus menyesuaikan dengan kondisi di mana pun itu. Misalnya pas lagi naik gunung.

Menurut saya, boker di gunung Indonesia memang jauh lebih nyaman dibandingkan boker di jalur trekking Himalaya sana. Kita tinggal gali, jongkok, lap-lap pake tissue, timbun. Selesai. Areanya luas, bisa sambil menikmati pemandangan atau suasana hutan. Bisa juga dilakukan rame-rame bareng teman dan sanak family.

Beda dengan di jalur Himalaya, Nepal. Banyak tantangannya.

1. HARUS DI TOILET
Jalur trekking di Nepal, mau itu jalur Annapurna Base Camp, Mardi Himal, Langtang, Everest Base Camp dll, semuanya adalah jalur ramai. Di bulan-bulan sepi trekker saja setiap 10 menit bakal ketemu orang, apalagi di bulan rame, tiap 2-3 menit pasti papasan dengan trekker lain atau orang lokal. Gak mungkin kan kita nekad boker di jalur walopun tempatnya tersembunyi. Kalo keliatan orang, kan malu. Negara kita nanti dibawa-bawa, “Orang Indonesia suka berak di jalan, hih, pasti presidennya gak becus!” Pak Jokowi kena lagi akhirnya.

Intinya, opsi untuk melipir dari jalur lalu boker terlalu riskan untuk dilakukan. Kita harus merencanakan waktu boker kita dengan tepat. Jangan sampai kebelet boker pas lagi jalan, REPOT. Bokerlah sebelum kita memulai trekking di hari itu, atau pastikan bahwa kita tidak akan kebelet boker sampai di perhentian berikutnya yang ada toilet.

2. AIRNYA DINGIN
Kita sudah berhasil tiba di lodge tempat menginap. Semua barang sudah masuk kamar, sudah ganti baju, sudah pake sendal, bersiap untuk boker. Di hari pertama hingga hari kedua trekking, sih, biasanya air di toilet belum terlalu dingin. Masih dingin yang sejuk lah di pantat, sejuk yang mendamaikan. Tapi, di hari ketiga, dinginnya udah kayak aer es. Di pantat sudah tidak sejuk lagi tetapi sudah bikin kebal kayak bius lokal. Untuk yang terbiasa boker kering emang gak akan ada masalah dengan ini, selama ada tissue maka sentuhan dengan air hanya terjadi ketika harus siram-siram. Tapi bagaimana dengan orang yang bertipe boker basah? Yang kalo boker harus guyur-guyur pantat? Yang gak bisa cebok cuma pake tissue?

Bertemu toilet dengan kloset duduk yang dilengkapi tombol flush dan sprayer adalah hal langka di sini. Sebagian besar toiletnya tipe kloset jongkok, atau kalo pun kloset duduk, ya tanpa sprayer dan tombol flushnya suka macet. Karena itulah kita harus siap mental ketika kebelet boker di hari ketiga dan seterusnya sampai kita kembali ke ketinggian di bawah 3000 meter. Yang paling menyiksa tentu saja ketika cebok. Tangan dan pantat bisa mati rasa. Udah gitu harus cuci tangan pula setelahnya. Jari kayak ditusuk-tusuk ratusan jarum, which is, sama seperti gejala awal frostbite, cidera yang sering terjadi ke pendaki gunung es yang membuat mereka kehilangan jari karena jarinya beku saking dinginnya. Kan gak lucu kalo jari kita harus diamputasi cuma gara-gara boker.

Saya sih selalu menyiapkan tissue basah dan tissue kering ketika bertemu kondisi ini. Anggap aja lagi boker di Merapi, gak pake air, cukup tissue untuk cebok dan hand stabilizer buat cuci tangan. Daripada kena frostbite? Jari dipotong? Pantat diamputasi? Hayo..

3. AIRNYA BEKU
Ini yang paling menyiksa. Ketika udah kebelet, tidak ada air karena airnya jadi batu. Ini biasanya terjadi saat kita sudah di ketinggian lebih dari 4000 meter dan trekkingnya dilakukan waktu musim dingin di bulan Desember atau Januari. Saya mengalaminya saat sedang berada di High Camp jalur Mardi Himal. Jam 2 malam, ketika temperatur sudah jatuh ke -10 derajat celsius, mendadak perut saya bergejolak. Sesuatu di dalamnya meronta-ronta ingin keluar. Mau dingin kayak gimana juga, namanya kebelet ya gak bakal ketahan man. Ngantuk pun bakal kalah. Terpaksa saya keluar dari sleeping bag, pake sendal, lalu keluar kamar menuju ke toilet di samping lodge.

Ember di dalam toilet kosong. Air di dalam tandon sudah membatu seutuhnya. Air di tampungan apalagi. Dalam keputusasaan dan ketidakberdayaan itu, akhirnya saya menyerah pada keadaan. Saya membawa satu pack tissue basah, segulung tissue kering, dan sebotol air minum. Yang penting bisa cebok. Lalu guyurnya bagaimana?

Pake salju. Hahahahaha.

Setelah menuntaskan urusan malam itu, saya berdoa semoga tidak ada orang yang sedang kebelet juga dan berpapasan dengan saya saat keluar dari toilet. Doa saya tidak dijabah. Begitu keluar, seorang mas-mas bule bergegas masuk. Saya bergegas pergi. Doa saya menjadi “Semoga dia tidak ingat wajah saya.”

Sejak pertama kali trekking di Nepal sampai sekarang, dari berbagai pertemuan dengan banyak toilet, ada dua yang paling membekas di ingatan saya. Memorable. Berkesan banget. Gak negatif kok, malah kesan positif, dan, lucu.

Yang pertama adalah kamar mandi dalam di lodge Deurali, jalur Mardi Himal. Toilet ini cakep banget! Klosetnya duduk, tombol flushnya berfungsi sempurna, dan yang paling keren, ada sprayernya! Toiletnya juga bersih, dan airnya mengalir dengan lancar. Ini adalah toilet yang recommended banget.

Lodge di Deurali, mewah!

Screenshot 2021-04-13 181603

Toilet kedua ada di salah satu lodge desa Dingboche, jalur Everest Base Camp. Toilet standar sih, kloset duduk ada, jongkok pun ada. Di dalam toilet cuma ada ember dan foto gunung yang tergantung di dinding sebagai pemanis. Yang bikin saya ngakak adalah: Lantainya dialasin karpet. Karpet beneran! Tau kan karpet karet anti slip yang ada rongga-rongganya gitu? Yang biasanya jadi keset? Nah!

Saat pertama kali mau masuk ke toilet ini, i was like, “What the fak? LOL.” Bisa-bisanya si Mingma, ownernya, punya ide buat ngalas lantai toilet pake karpet. Iya kalo bokernya terarah sempurna, kalo berantakan gimana? Berceceran ke samping pelanggan, misalnya. Gimana coba ngebersihinnya kalo karpetnya model begitu? Yang ada, serpihan-serpihan itu akan nyelip di rongga-rongga karpet, bersemayam di sana, waiting to be discovered. Yang versi kloset duduk masih oke lah, potensi ceceran agak kecil. Tapi yang kloset jongkok? Liat deh.

20191124_182226

Tapi tenang, jangan kuatir, karena masalah perbokeran ini bukan isu yang penting untuk dipertimbangkan ketika mau trekking di Nepal. Hampir semua toilet di jalur trekking itu bersih-bersih kok. 99% berakable. Yang 1% lagi biasanya gara-gara user yang tidak bertanggungjawab, yang boker tanpa disiram dan membuat toiletnya jadi unberakable. Atau sekedar diguyur dengan salju karena air tidak tersedia. Ingat, salju gak bisa dipake buat nyiram tai. Ketutup doang, tapi dia masih ada di sana. Waiting to be discovered..

  1. Bgst ngakak gegara BERAK 🤣🤣🤣🤣💩💩💩💩💩💩

    Like

    Reply

  2. Ya ampuuuuun soal pertoiletan di jalur trekking Nepal mah memang nano-nano. Kadang ada yang bersih dan mewah banget seperti yang diri temui di Deurali (aku nemuin juga beberapa, cuma lupa di mana aja). Tapi ada juga yang ya gimana ya, mau gak mau diterima aja.

    Aku ingat banget waktu nginep di MBC, jam 2 malam mules dan pengen ke toilet, air di botol minum udah beku jadi es. Khawatir banget kalau air di kamar mandi juga. Ajaibnya belum beku. Tapi pas dipakai buat cebok. Beuh! Kaya ditusuk ratusan jarum saking dinginnya. Sampai mikir, duh kalau sampai frostbite di area situ khan gak lucu hahahaha.

    Toilet paling ajaib sih aku temuin di jalur antara Namche Bazaar dan Dingboche, well ini toilet di pinggir jalan sih. Gak ada air sama sekali, jadi bekas buang air (apapun itu) ditimbun pakai guguran daun pinus yang udah disiapin di baknya. Untung aja cuma buang air kecil, kalau buang air besar mah berabe :-D

    Eh jadi inget, aku belum satupun nulis tentang trekking ke Annapurna dan Everest hahaha. Saking banyaknya yang mau ditulis malah gak tau mau nulis dari mana.

    Anyway, thanks udah membangkitkan memori manis hari-hari seru trekking di Himalaya bro.
    Kangen ya, pengen trekking di sana lagi?

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: